Tampilkan postingan dengan label Kenali Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kenali Diri. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Januari 2001

Mencari Hakekat

Benarkah langit itu biru, taman itu hijau dan pasir itu putih.

Benarkah madu itu manis, maja itu pahit.

Apakah kayu itu benda kaku, sutera itu lemas.

Benarkah batu itu benda mati.

Betulkah kaca itu bening, tembok itu masif tak tembus cahaya.

*

Tentu saja tidak.

Semua yang bisa dilihat, diraba, dicium dan dirasa bukanlah hakekat. Cahaya yang terbias melalui prisma terurai menjadi tujuh. Apakah tujuh warna itu hakikat?

Tidak.

Tujuh warna adalah spektrum panjang gelombang, perbedaan frekuensi, tidak lebih dan tidak kurang.

Namun itulah keterbatasan mata manusia.

Kelemahan mata kita adalah nikmat Allah sebagai indera yang tidak mampu melihat spektrum gelombang dan merasakan getaran frekuensi sebagai getaran. Yang terjadi hanyalah reaksi saraf di selaput jala mata yang menerima getaran dan meneruskan ke pusat syaraf di otak yang menterjemahkan getaran berita syaraf menjadi warna dan bentuk.

Tetapi gelombang cahaya bukanlah warna. Daun yang hijau bukanlah hijau.

Hijau adalah bahasa otak yang menerima getaran syaraf berdasarkan informasi selaput jala dari sejumlah getaran gelombang dengan frekuensi tertentu yang datang ke arah kita setelah ditolak oleh daun yang menerima cahaya.

Warna-warna pada hakikatnya adalah bukan warna.

***

Gula adalah gula. Manisnya gula bukanlah hakikat gula. Untuk yang sehat gula itu manis. Bagi si sakit, syaraf lidahnya memberi isyarat yang berbeda… gula itu pahit. Manis dan pahit adalah bahasa otak, sedangkan gula adalah GULA.

Dinding tembok tidaklah masif. Karena dinding terdiri dari molekul yang terikat dalam ruang kosong antar molekul. Molekul terdiri dari atom yang tergabung dalam ruang antar atom. Sayangnya mata kita amat lemah dan tidak mampu melihat elektron berputar seperti planet di sekeliling matahari. Tembok menjadi masif, karena mata tidak mampu melihat ruang kosong diantara atom dan molekul.

***

Maka seniman menampilkan dunia yang berbeda, karena dunia ini memang tidak seperti yang terlihat. Jika kita melihat langit itu biru, seniman menggambarkan hitam legam bergaris putih atau seperti bulu merak aneka warna.

Seorang saintis berbeda dengan seorang seniman. Jika seniman mencari hakekat dengan intuisi dan perasaan, maka saintis menggunakan rumus-rumus dan hitungan.

Maka hakikat bintang berjarak 5 juta tahun cahaya dari bumi tidak kita tahu. Karena yang kita lihat adalah masa lampau bintang jutaan tahun yang lalu. Karena itu mata adalah mudah dibohongi. Mungkinkah kita silau oleh kilatan cahaya sesuatu yang sebenarnya tidak berwujud.

Karena mata yang lemah, sinar ultra violet tidak terlihat. Begitu juga sinar infra merah. Meskipun secara hakikat kedua sinar tersebut ada, karena panjang gelombangnya tercatat oleh alat.

***

Lidah dan syaraf perasa yang tidak sempurna, ditambah otak yang mudah dimanipulasi. Jadi, dimanakah letak kekuatan manusia?

Alam yang kita lihat bukanlah alam sebenarnya, semata-mata istilah yang kita berikan sendiri. Padahal seluruh tanggapan indera kita bersifat relatif, bukan hakikat.

Yang berwarna sesungguhnya tidak berwarna
Yang masif sesungguhnya tidak masif
Yang terlihat sesunguhnya tidak terlihat
Yang terbatas sesungguhnya tak terbatas.

Lalu dimanakah mencari hakikat di alam semesta??

Satukan Hati Dan Ucapan

Hati setiap manusia dibagi menjadi dua. Yaitu hati besar dan hati kecil. Hati besar adalah hati yang selalu berkata bohong, membuat panas, mengadu domba, iri, dengki dan lain-lainnya. Sementara hati kecil juga biasa disebut hati nurani adalah hati yang selalu berkata jujur, apa adanya, dan selalu mengingatkan setiap manusia untuk senantiasa berbuat kebaikan.

Namanya saja hati besar, jadi dengan tempat yang cukup besar maka, kekuasaannya pun juga besar. Sedangkan hati kecil memang sangat kecil namun bila dikelola dengan baik akan mampu untuk menundukkan sekeras apapun, setinggi apapun dan sehebat apapun. Tak heran jika Kanjeng Nabi Muhammad SAW senantiasa mengingatkan manusia bahwa jihad yang paling besar pada setiap manusia adalah perang melawan hawa nafsunya. Nah, hawa nafsu itulah yang ada pada hati besar dan cukup dominan.

Maaf, selama ini banyak orang yang salah dalam mengartikan jihad. Jihad itu bukanlah dengan memukuli, menghajar dan memaksa orang lain untuk berbuat baik. Tetapi jihad itu jika mensitir Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah urusan seorang manusia dengan dirinya sendiri. Artinya, setiap manusia harus mampu untuk mengalahkan hawa nafsunya. ‘Kemenangan’ dalam mengalahkan hawa nafsunya sendiri itu biasanya terpancar dari wajah dan perilaku seseorang. Dari roman wajahnya akan tampak ketenangan dan ketabahan dalam menghadapi hidup. Setiap persoalan dalam hidup di dunia pun dihadapinya dengan tenang.

Satukan Hati dan Ucapan

Apabila hati besar yang penuh kebohongan dan arogansi sudah dikalahkan dan ditundukkan, maka yang muncul adalah kejujuran. Apa sih kejujuran itu? Kejujuran adalah bersatunya ucapan hati dan ucapan mulut. Artinya, antara hati dan mulut mengucapkan hal yang sama. Jika antara ucapan hati dan ucapan mulut tidak sama, berarti hawa nafsu yang ada pada hati besar bisa dikatakan masih belum mampu dikalahkan dan ditundukkan.

Jika pada hati dan ucapan mulut kita tidak sama, jangan berharap doa kita bisa diterima oleh GUSTI ALLAH. Lha kok bisa? Jelas. Pasalnya, ketika berdoa kita selalu mengucapkan doa dan mengharapkan agar doa kita terkabul. Lha bagaimana bisa terkabul, kalau hati kita sendiri tidak meyakininya? Artinya, sebuah doa menjadi tidak terkabul ketika antara ucapan mulut dan hati tidak sama. Hati mengatakan itu, mulut mengatakan ini (yang nyata-nyata bertolak belakang).


Hati adalah sumber segala-galanya.

Belajar Mati

“Belajarlah Mati sebelum kematian itu datang”. Kata-kata itu sepertinya hanya sebuah kata iseng yang diucapkan. Tetapi jika kita telaah dan pahami secara rinci, kata-kata itu mengandung makna yang sangat dalam dan sarat ilmu.

Belajar mati disini bukanlah dalam artian kita harus bunuh diri untuk bisa mengecap sebuah kematian. Tetapi arti kata belajar mati di sini adalah mematikan segala bentuk hawa nafsu untuk bisa bertemu dengan Sang Khaliq.
Orang yang beragama Islam juga memiliki kata-kata seperti itu yakni “Sholatlah kamu sebelum kamu disholati orang lain”. Artinya, bagi orang yang beragama Islam harus menjalankan sholat yang sejati. Bukan sholat yang hanya sekedar “gugur kewajiban” saja. Tetapi sholat disini adalah mengenal, menghadap, menyembah Allah. Dengan sholat, kita bisa mengenali Allah. Dengan Sholat kita bisa berbicara dan berkomunikasi dengan Allah. Seusai sholat, kita akan bisa merasakan kenikmatan dalam berkomunikasi dengan Allah.
Kembali pada pokok bahasan belajar mati. Dalam hal ini, belajar mati adalah berdiam diri (meditasi/samadhi) dengan mematikan hawa nafsu, pancaindera dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nafsu. Semata-mata yang bergerak adalah hati dan rasa. Rasa sejati dengan bimbingan dari Gusti ALLAH lewat Guru Sejati. Dengan samadhi/meditasi, maka seseorang bisa mematikan diri sendiri dan berkontemplasi, konsentrasi menghadap khusuk pada Gusti ALLAH.
Dengan samadhi/meditasi, kita meninggalkan dunia ini untuk sementara waktu dan memasuki alam lain yakni alam jabarut, malakut hingga alam ilahiah. Dengan memasuki berbagai alam ini kita akan bisa melihat kebesaran dari Gusti ALLAH akan semua makhluk ciptaannya. Jika hal itu sering kita lakukan, maka sewaktu-waktu jika kita dipanggil oleh Gusti ALLAH (meninggal dunia), kita sudah siap.

Mengetuk Pintu Gusti ALLAH
Tidak ada bedanya tatakrama ketika kita bertamu dengan ketika kita menghadap pada Gusti ALLAH. Kalau kita bertamu ke rumah rekan atau sahabat, tentunya harus mengetuk pintu terlebih dulu sebelum siempunya rumah keluar. Demikian pula ketika hendak menghadap pada Gusti ALLAH. Kita harus mengetuk pintuNYA.
Mengetuk pintuNYA itu tidak dalam artian yang sebenarnya. Tetapi dalam artian meminta ijinNYA untuk bisa masuk ke alamnya. Manusia tidak akan bisa masuk dengan sendirinya tanpa mengetuk pintu Gusti ALLAH itu. Cara mengetuk pintu tersebut adalah dengan doa yang disebut dengan doa kunci.
Doa tersebut hendaknya dibaca tujuh kali dengan menahan napas setiap kali membacanya. Doa tersebut berbunyi:

Gusti Ingkang Moho Suci
Kulo Nyuwun Pangapuro Dhumateng Gusti Ingkang Moho Suci
Sirrullah, Dzatullah, Sifatullah
Kulo Sejatining Satrio Nyuwun Panguoso
Kulo Nyuwun Kanggo Tumindhake Satrio Sejati
Kulo Nyuwun Kanggo Anyirnakake Tumindak Ingkang Luput.

Dengan mengetuk pintu Gusti ALLAH tersebut, maka kita sudah bisa melanglang buana milik ALLAH yang tidak semua orang bisa memasukinya. Tentu saja, semua itu atas izin dari Gusti ALLAH sendiri sebagai pemilik alam semesta. Mudah-mudahan artikel tersebut dapat berguna. Rahayu…Rahayu….Rahayu….

Saudara Gaib { Sedulur alus }

Sejak zaman kuno, spiritualitas Jawa mengakui bahwa setiap orang mempunyai saudara-saudara halus yang mendampinginya. Mereka tentu tidak kelihatan oleh mata biasa ,karena mereka tidak berbadan fisik. Mereka itu ada dan berbadan halus yang berujud sinar.

Dalam pemahaman spiritualitas universal dinyatakan bahwa setiap manusia selalu didampingi oleh spirit guide atau pengawal suksma, bisa satu pengawal bisa lebih. Para guides atau pengawal juga berasal dari dunia suksma.

Seperti kita telah fahami bahwa manusia sejati adalah suksma yang memakai pakaian badan halus dan badan fisik yang sesuai. Suksma atau jiwa hidup langgeng atau immortal, yang rusak adalah raga. Bila raga rusak, maka suksma/jiwa kembali kealam asal atau dalam bahasa sehari-hari disebut meninggal dunia. Orang Jawa kuno bilang : Kembali kemula-mula, pulang keharibaan Gusti, Tuhan.

Manusia hidup yang berujud bleger- raga eteris dan fisik, didalamnya berupa suksma, yang dalam spiritualitas sering dipanggil pribadi sejati atau Higher Self dan pada penampilan luarnya berujud manusia yang beraga.( Mengenai Pribadi Sejati atau Higher Self, ada sementara spiritualis muda kita, yang menyebutnya dengan “ Kembaran Saya”, mereka berdalih pada waktu ketemu dengan Pribadi Sejati, rupa dan bentuknya persis seperti dirinya).

Menurut kawruh Kejawen, pengetahuan spiritual Jawa yang merupakan satu kebenaran dan kenyataan, setiap manusia selalu didampingi oleh saudara-saudara halusnya. Dari begitu banyak bibit kehidupan berupa sperma sehat calon Bapak yang masuk dalam gua garba ibu, hanya satu yang menjadi janin dan ketika sudah 9/sembilan bulan dikandungan ibu, terlahir sebagai bayi.

Bisa juga dua atau lima , kalau terjadi bayi kembar. Jadi banyak bibit kehidupan yang tidak mendapatkan kesempatan untuk terlahir sebagai bayi manusia.Sedangkan yang telah menjadi bayi , tumbuh menjadi manusia untuk menjalani kehidupan didunia ini. Oleh karena itu, kita yang menjadi manusia , wajib mensyukuri hidup ini dan mengisi kehidupan didunia ini dengan benar, baik dan berguna bagi sesama dan jagat ini.

Manusia dalam kiprahnya menjalani kehidupan dibumi , selalu didampingi oleh saudara-saudara Gaibnya kapanpun dan dimanapun dia berada. Para saudara halus ini mendapatkan tugas dari Sang Pencipta Kehidupan, Gusti, Tuhan untuk membantu dan menjaga saudaranya yang pada saat ini menjadi manusia dibumi.

Siapa saja saudara Gaib itu?

Sedulur alus yang tidak berbadan fisik itu menurut kepercayaan tradisional Jawa selalu membantu saudaranya yang manusia dengan jalan menyertai, melindungi, membantu supaya saudaranya yang manusia menjalani kehidupannya dengan selamat, sehat, sejahtera selama hidup dibumi ini. Tugas sedulur alus tersebut sesuai dengan paugeran – ketentuan dari Gusti.

Saudara Gaib itu jumlahnya banyak, mari kita coba mengenali mereka :

Mar dan Marti, biasa dipanggil Mar Marti.

Mereka adalah saudara manusia yang lebih tua. Mereka tidak ikut dilahirkan melalui gua garba ibu. Mar yang paling tua merefleksikan perjuangan ibu sewaktu melahirkan bayi. Dia adalah daya, kekuatan yang kuat, hebat untuk hidup dan melindungi hidup.

Marti merefleksikan perjuangan ibu setelah melahirkan. Perjuangannya berhasil, lega rasanya. Oleh karena itu Mar Marti tinggi pangkatnya, sebagai Raja dan Ratu. Secara mistis warnanya berupa cahaya putih bersih dan kuning muda jernih.

Mar Marti membantu manusia yang dikawalnya ,hanya untuk hal-hal yang penting, dalam keadaan yang benar-benar diperlukan. Karena derajat Mar Marti adalah bagai Raja dan Ratu, maka manusia yang meminta bantuan mereka adalah yang punya perbuatan, pikiran dan rasa yang jernih. Menurut istilah Kejawen adalah manusia yang telah melakukan tapabrata terlebih dahulu, yang sudah melakukan laku spiritual yang sungguh-sungguh.

Sedulur papat kalimo pancer

Saudara empat yang kelima pancer, yaitu :

Kakang Kawah : Kakak Kawah, yang keluar dari rahim ibu, sebelum sibayi. Warnanya putih, tempatnya di Timur.

Adi Ari-ari : Adik ari-ari, yang keluar dari rahim ibu, sesudah si bayi. Warnanya kuning, tempatnya di Barat.

Getih : Darah yang keluar dari rahim ibu sewaktu melahirkan. Warnanya merah, tempatnya di Selatan.

Puser : Pusar, yang dipotong sesudah kelahiran bayi. Warnanya hitam, tempatnya di Utara.

Pancer : Pancer adalah bleger ,wujud badan jasmani yang ada ditengah keempat saudara yang lain yang tidak punya raga fisik.

Sedulur papat kalimo pancer juga disebut Keblat papat, kalimo tengah ,artinya : Kiblat empat, yang kelima ditengah.( Mengenai kiblat: Timur, Selatan, Barat, Utara dan Tengah, ini mengandung pemahaman tersendiri dalam spiritualitas Kejawen, yang akan diuraikan dilain kesempatan).

Para saudara halus ini mempunyai tugas untuk membantu manusia didalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya ada saudara-saudara halus yang dipanggil sebagai :

Kabeh kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang ora metu saka marga ino.

Semua saudaraku, yang ada melalui rahim ibu dan yang tidak melalui rahim ibu.

Kabeh kadang ingsun kang ora katon miwah kang ora karawatan.

Semua saudaraku yang tidak kelihatan dan tidak terawat.

Kabeh kadang ingsun kang lahir bareng sadino sawengine karo aku.

Semua saudaraku yang lahir siang malam bersamaku.

Jadi, memang benar saudara halus manusia itu ada banyak, mereka juga sering disebut sedulur sinarawedi- saudara terdekat. Dari sudut kebatinan, ada yang menyebut mereka makdum sarpin.

Perlu dikenal

Para pinisepuh Kejawen mengajarkan supaya kita semua mengenal dan syukur kalau mau ngerteni – memahami saudara halus kita. Mereka itu selalu mengawal dan membantu kita, disadari atau tidak, karena mereka dapat tugas dari Gusti, Tuhan. Tentunya ,si manusia juga harus berbuat dan berkemauan yang baik.

Perlu diketahui bahwa para saudara halus tersebut merasa senang kalau kita mengetahui kehadiran dan keberadaan mereka, terlebih kalau kita memperhatikan mereka. Kalau mereka merasa dianggap dan diperhatikan tentu mereka akan lebih rajin dan giat membantu. Mereka senang bila setiap saat diajak berpartisipasi dalam setiap kegiatan kita, seperti : makan, minum, belajar, bekerja, menyopir, mandi dsb.

Contoh mengajak saudara halus kita, katakan dalam batin :

“ Semua saudara halusku ( secara lengkap adalah : Kakang kawah, adi ari-ari, getih, puser, kadang ingsun papat kalimo pancer, kabeh kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang ora metu saka margo ino, kabeh kadang ingsun kang ora katon miwah kang ora karawatan, kabeh kadang ingsun kang lahir bareng sadino sawengine karo aku), saya mau makan, bantulah saya – Aku arep mangan, ewang-ewangono. Artinya supaya kita dibantu bisa makan dengan selamat dan makanan itu juga baik untuk kita.

“ Semua saudara halusku, bantulah saya menyopir mobil ini atau naik motor ini supaya selamat dan lancar sampai ke kampus atau ke kantor”. Artinya supaya dibantu supaya tidak ada halangan maupun kecelakaan.

“ Semua saudara halusku, bantulah saya dalam bekerja, sehingga pekerjaan saya lancar dan benar”.

Perlindungan pada waktu tidur

Pada waktu tidur, kita tidak bilang supaya dibantu tidur. Nanti mereka semua tidur dan tidur itu bukan kebutuhan mereka. Katakan dalam batin : “ Kabeh sedulur alusku, aku arep turu, reksanen aku sajerone turu, yen ana kang ngganggu utawa mbebayani tandangono utawa gugahen aku”.

Artinya :

“ Semua saudara halusku, saya mau tidur, lindungilah saya. Kalau ada yang mengganggu atau membahayakan, kamu atasi atau kamu bangunkan aku”.

Sambil merebahkan badan ditempat tidur, sebelum menutup mata, letakkan telapak tangan kanan diatas dada , menyentuh jantung, katakan dalam batin : “Saya juga hidup “–“ Aku iyo urip”.

Berdasarkan pengalaman, biasanya tidur nyenyak, selamat, bangun tidur sehat, cerah.

Akrab dengan saudara halus

Hubungan akrab dengan semua saudara halus bisa dilakukan dengan biasa melakukan komunikasi. Seperti juga dalam pergaulan antar manusia, kalau sering terjadi komunikasi, tentulah hubungannya menjadi lebih terbiasa dan bahkan menjadi akrab. Kalau sudah akrab, bisa terjadi hubungan yang saling membantu.

Jalinan komunikasi pertama adalah : Anda sering menyebut nama mereka secara lengkap, satu per satu. Ini anda lakukan karena anda perlu minta dibantu atau dilindungi. Dengan menyebut mereka dan minta bantuan itu artinya anda mengakui keberadaan mereka dan bahwa mereka adalah saudara-saudara anda yang anda sayangi dan perlukan. Jadi menyebut mereka dan minta kerjasama mereka, itu tidak merendahkan mereka maupun anda, itulah kenyataan yang digariskan Gusti, sesuai Kejawen. Ini adalah tindakan terhormat karena anda dan saudara-saudara anda adalah dari satu sumber yang sama yaitu atas karsa Gusti.

Seandainya anda, tidak pernah menyapa mereka, maka sebagai sesama makhluk mereka juga merasa bahwa keberadaan mereka tidak anda perhatikan dan perlukan. Mereka akan tidak antusias mendampingi, melindungi dan membantu anda, meskipun itu tugas alami mereka atas kehendak Gusti. Maka jangan heran kalau kita lihat banyak teman, kenalan kita yang hidupnya kesandhung-sandhung – banyak menghadapi kendala, sial, nasib jelek dan sebagainya. Mungkin saja mereka tidak dibantu secara optimal oleh saudara-saudara halusnya sendiri, selain ada masalah karma.

Hendaknya diketahui bahwa para saudara halus itu berada didunia dengan tanpa raga fisik, itu adalah juga latihan bagi mereka, bila nanti satu ketika ,mereka diperbolehkan menjalani kehidupan sebagai manusia oleh Gusti, Tuhan. Bila mereka bisa menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik, itu harapan lebih besar dan lebih cepat untuk muncul dibumi sebagai manusia.

Mereka juga senang kalau manusia yang dikawal sukses, maju dan baik kehidupannya. Sebaliknya ,bila yang dikawal tidak baik, tidak memahami mereka, mereka juga punya rasa bosan. Lalu timbul perasaannya :” Buat apa mendampingi lama-lama manusia seperti ini. Lebih baik dia cepat dipanggil kembali kealam asal yaitu alam suksma dan kamipun juga bebas tugas dan juga kembali kealam suksma. Disana kami menanti anugerah Gusti untuk diciptakan sebagai manusia dan boleh hidup dibumi sesuai ketentuan”.

Komunikasi dan ajakan kepada saudara halus yang utama adalah ketika kita manembah kepada Gusti. Kita ajak mereka, disebut namanya satu persatu untuk membantu dan melindungi kita dan penyembahan kita, semadi kita, meditasi kita diperkenankan oleh Gusti.

Pendekatan kita yang kedua adalah ketika kita melakukan laku spiritual untuk memperteguh iman kita untuk percaya, berbakti dan mendekatkan diri kepada Gusti. Ajaklah saudara halus untuk membantu dan melindungi.

Pendekatan ketiga supaya akrab dengan saudara halus adalah supaya mereka membantu kita dalam menjalankan tugas kehidupan yang baik dan benar supaya berhasil dan tidak terkena halangan atau goda yang negatif.
Pendekatan yang lain ketika kita mengajak saudara halus kita membantu kita supaya kita berhasil mencapai cita-cita dan keinginan yang baik.

Menurut pengalaman para pinisepuh dan yang sudah akrab dengan saudara-saudara halus, sebenarnya mereka itu masing-masing punya kekhususan a.l .:

Mar Marti, hanya membantu dalam hal yang sungguh perlu dalam kehidupan seseorang. Kakang Kawah dan Adi Ari-ari adalah yang banyak membantu dalam memenuhi kehendak yang baik. Kakang Kawah selalu membantu sebaik-baiknya terjadinya satu cita-cita/ keinginan, sedangkan Adi Ari-ari selalu mendukung dan menyenangkan. Getih membantu menggerakkan gairah dan semangat, Puser memperhatikan kemauan dan kebutuhan duniawi.

Sedangkan bagi saudara-saudara spiritualis yang sudah serasi hubungannya dengan Pribadi Sejati atau Higher Self, Pribadi Sejati bukan untuk permintaan apapun ,apalagi yang bersifat keduniawian,tetapi untuk sumarah – berpasrah total kepada Gusti.Pada tataran ini seorang manusia sejati sebenarnya telah memasuki tataran kesadaran spiritual yang jarang digapai oleh orang biasa.

Mengenai kesadaran- consiousness yang berupa bawah sadar, kesadaran normal dan kesadaran tinggi, akan kita bicarakan kemudian.

NB: . UNTUK MINTA BANTUAN SEDULUR PAPAT KELIMO PANCER

“Kakang kawah adi ari-ari sedulur tua papat lima pancer, sing dumunung ana ing awak ingsun, jungkungana laku ingsun, bisa kasembadan apa sing ana ati lan pikiran ingsun yaiku…(sebutkan permintaan anda ex: bisa ketemu kelawan sira sedulur kabeh), kanti kalis ing sambekala padang panjang…Amien…”

Iblis adalah Dirimu

Ketika Cinta dan Ruh menyatu

Ketika itulah Manusia tercipta

Berwujud Adam

Berhati Iblis

Tahukah kamu siapa Iblis itu?

Dialah dirimu.

ups! Serrem amet yak ni tulisan? hehehe…
Tapi memang begitulah Kenyataannya
Iblis menurut pengertianku adalah keAKUan/Ego Manusia, sekali lagi ini menurut aku lho! entah menurut kalian?

Aku hanyalah seorang pejalan yang sedang menyusuri belantara diri
Mungkin saja aku bisa tersesat, tapi aku yakin, Guru sejati akan selalu membimbingku dari alam abadi.

Nasehat Iblis

Singkaplah Hijab hatimu, dan lihatlah apa yang sebenarnya

Lihatlah menembus sosokku ini, karna Akulah dunia, Aku hijabnya Allah.

Jangan pernah terobsesi padaku, karna aku hanyalah salah satu dari sekian banyak manimfestasinya:

Dan Allah memiliki banyak manimfestasi, mengalahkan jumlah bintang dan planet-planet, melebihi seluruh pasir disegenap jagat mililk-Nya.

Janganlah membenciku, ataupun membenci dunia.

Tapi jangan pernah pula kalian mengabaikanku.

Ketahuilah yang sesungguhnya tentang Aku dan berdamailah denganku, karna Dia akan melindungimu jika kamu memang pantas untuk Dia lindungi.

Namun jika tidak, maka kamu adalah milikku.

Jangan pernah berfikir bahwa aku mengajak manusia menuju keabadian diNeraka jahannam.

Aku tidak membeli jiwa seperti apa yang kalian dongengkan.

Buat apa aku membeli sesuatu yang dengan begitu bebas diberikan padaku setiap hari dengan sangat berlebih?

Aku memang terkutuk, tapi bukan berarti tak ada artinya.

“Aku dan para Rosul utusan hadir, sebagai bukti kekuasaan Allah atas mahluk-Nya, sekaligus juga sebagai bukti kebebasan mereka dalam memilih.

Didalam taman cinta-Nya ia menabur benih kepedihan

Merawatnya dengan garam dan air asin

Cintailah yang Esa ini

Dengan cinta yang dapat Dia terima

Kosongkan benakmu dari selain-Nya

Campakkan cintamu pada selain-Nya

Cinta diri, semua harapan dan juga mimpi

Terakhir, campakkanlah pula cintamu pada-Nya

Karna dalam kehadiran-Nya

Tak pernah ada ruang tersisa bagimu





Dihadapan Sang Maha Pengasih

Adalah sebuah dosa untuk sampai merasa putus asa terhadap pengampunan-Nya.

MENGENALI JATI DIRI

Siapa sejatinya diri kita sebagai manusia ? Pertanyaan ini sederhana, dapat dikemukakan jawaban paling sederhana, maupun jawaban yang lebih rumit dan rinci. Jawaban masing-masing orang tidak bisa diukur secara benar-salah. Cara menjawab siapa diri manusia hanya akan mencerminkan tingkat pemahaman seseorang terhadap kesejatian Tuhan. Hal ini sangat dipermaklumkan karena berkenaan dengan eksistensi Tuhan sendiri yang begitu penuh dengan misteri besar. Upaya manusia mengenali Sang Pencipta, ibarat jarum yang menyusup ke dalam samudra dunia. Yang hanya mengerti atas apa yang bersentuhan dengannya. Itupun belum tentu benar dan tepat dalam mendefinisikan. Tuan memang lebih dari Maha Besar. Sedangkan manusia hanya selembut molekul garam. Begitulah jika diperbandingkan antara Tuhan dengan makhlukNya. Namun begitu kiranya lebih baik mengerti dan memahamiNya sekalipun hanya sedikit dan kurang berarti, ketimbang tidak samasekali.

Secara garis besar dalam diri manusia memiliki dua unsur entitas yang sangat berbeda. Dalam pandangan ekstrim dikatakan dua unsur pembentuk manusia saling bertentangan satu sama lainnya. Tetapi kedua unsur tidak dapat dipisahkan, karena keduanya sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Terpisahnya di antara kedua unsur pembentuk manusia akan merubah eksistensi ke-manusia-an itu sendiri. Yakni di satu sisi terjadi kerusakan/pembusukan dan di sisi lain keabadian. Umpama batu-baterai yang memiliki dua dimensi berbeda yakni fisiknya dan energinya. Kedua dimensi itu menyatu menjadi eksistensi batu-baterai berikut fungsinya. Dua unsur dalam manusia yakni; immaterial dan material, metafisik dan fisik, roh dan jasad, rohani dan jasmani, unsur Tuhan dan unsur bumi (unsur gaib dan unsur wadag). Marilah kita urai satu persatu kedua unsur pembentuk eksistensi manusia tersebut.

Unsur Bumi

Jasad manusia wujudnya disusun berdasarkan unsur-unsur material bumi (air, tanah, udara, api). Unsur air dan tanah dalam tubuh terurai secara alami melalui proses ilmiah (rumus ilmu pengetahuan manusia) dan rumus alamiah (yang sudah berproses melalui rumus-rumus buatan Tuhan). Unsur tanah dan air yang sudah berproses akan berubah bentuk dan wujudnya sebagai bahan baku utama jasad yang terdiri dari empat unsur yakni ; daging, tulang, sungsum dan darah. Sedangkan unsur udara akan berproses menjadi kegiatan bernafas, lalu berubah menjadi molekul oksigen dalam darah dan sel-sel tubuh. Unsur api akan menjadi alat pembakaran dalam proses produksi jasad, tenaga, energi magnetis, dan semua energi yang terlibat dalam memproses atau mengolah unsur tanah dan air menjadi bahan baku jasad.

Jasad wadag menurut istilah barat sebagai body atau corpus, merupakan wadah atau bungkus unsur Tuhan dalam diri manusia. Unsur wadah tidak bersifat langgeng (baqa’), sebab unsur wadah terdiri dari bahan baku bumi, maka ia terkena rumus mengalami kerusakan sebagaimana rumus bumi.

Unsur Tuhan

Sebaliknya, unsur Tuhan bersifat kekal abadi tidak terjadi rumus kerusakan. Unsur Tuhan (Zat Tuhan) dalam tubuh manusia diwakili oleh metafisik manusia yakni unsur roh (spirit atau spiritus). Roh merupakan derivasi unsur Tuhan yang paling paling akhir dan paling erat dengan bahan baku metafisik manusia (Baca Posting; Mengungkap Misteri Tuhan). Dan spirit diartikan sebagai roh, ruh atau sukma. Roh bersifat suci (roh kudus/ruhul kuddus), tidak tercemar oleh “polusi” dan kelemahan-kelemahan duniawi. Karakter roh adalah berkiblat atau berorientasi kepada martabat kesucian Tuhan. Arti kata roh sangat berbeda dengan entitas jiwa (soul), hawa atau nafas (nafs), animus atau anemos (Yunani), dalam bahasa Jawa apa yang lazim disebut nyawa. Sekalipun berbeda istilah, tetapi memiliki makna yang nyaris sama.

Pertemuan Unsur Bumi dan Unsur Tuhan

Dalam tubuh manusia terdiri atas dua unsur besar yakni unsur bumi dan unsur Tuhan. Di antara kedua unsur tersebut terdapat “bahan penyambung”, dalam literatur barat disebut soul atau jiwa (yang ini terasa kurang pas), Islam; nafs, Yunani; anemos, dan dalam bahasa Indonesia; hawa, Jawa; nyawa (badan alus). Hawa, jiwa, anemos, soul, atau nyawa merupakan satu entitas yang kira-kira tidak berbeda maknanya, berfungsi sebagai media persentuhan atau “lem perekat” antara roh (spirit) dengan jasad (body/corpus). Hawa, nafs, anemos, soul, jiwa, nyawa bermakna sesuatu yang hidup (bernafas) yang ditiupkan ke dalam corpus (wadah atau bungkus).

Dalam khasanah hermeneutika dan bahasa yang ada di nusantara tampak simpang siur dan tumpang tindih dalam memaknai jiwa, sukma, roh, dan nyawa. Ini sekaligus membuktikan bahwa memahami unsur Tuhan dalam diri manusia memang tidak sederhana dan semudah yang disebutkan. Karena obyeknya bersifat gaib, bukan obyek material. Cara pandang dan penafsiran dari sisi yang berbeda-beda, menimbulkan konsekuensi beragamnya makna yang kadang justru saling kontradiktif. Dengan alasan tersebut akan saya paparkan lebih jelas pemetaan tentang jiwa atau hawa dari sudut pandang budi-daya yang diperoleh melalui berbagai pengalaman obyek metafisika, dan intuisi, agar lebih netral dan mudah dipahami oleh siapa saja tanpa membedakan latar belakang agama. Dengan asumsi tersebut diperlukan perspektif yang sederhana namun mudah dipahami. Kami akan memaparkan melalui perspektif Javanism atau kejawen, dengan cara penulisan yang sederhana dan “membumi”.

Hubungan Unsur Tuhan dengan Unsur Bumi dalam Laku Prihatin

Setiap bayi lahir memiliki tingkat kesucian yang dapat diumpamakan sebagai kertas putih bersih. Kesucian berada dalam wahana nafs atau hawa yang masih bersih belum tercemar oleh “polusi” keduniawian. Hawa/nyawa/nafs diuji bolak-balik di antara dua kutub; yakni kutub jasmaniah yang berpusat di jasad (corpus) dan kutub ruhaniyah yang berpusat pada roh (spirit). Unsur roh bersifat suci dan tidak tersentuh oleh kelemahan-kelemahan material duniawi (dosa). Roh suci sebagai “utusan” Tuhan dalam diri manusia yang dapat membawa ketetapan/pedoman hidup. Sehingga roh dapat berperan sebagai obor yang memancarkan cahaya (spektrum) kebenaran dari Tuhan. Dalam perspektif Jawa roh suci (utusan Tuhan) tidak lain adalah apa yang disebut sebagai Guru Sejati. Guru Sejati tampil sebagai juru nasehat untuk hawa, jiwa atau nafs.

Hawa Nafsu ; Ibarat Satu Keping Mata Uang

Hawa (nafs) atau jiwa yang tunduk kepada roh suci (guru sejati) akan menghasilkan hawa (nafs) yang disebut nafsu positif –meminjam istilah Arab— sebagai an-nafs al-muthmainah.. Sebaliknya jiwa atau hawa yang tunduk pada keinginan jasad disebut sebagai nafsu negatif. Nafsu negatif terdiri tiga macam; nafsu lauwamah (kepuasan biologis; makan, minum, tidur dst), nafsu amarah (amarah/angkara murka), dan nafsu sufiyah (mengejar kenikmatan psikis; contohnya seks, sombong, narsism, gemar dipuji-puji). Hawa memiliki dua kutub nafsu yang bertentangan ibarat satu keping mata uang yang memiliki dua sisi. Akan tetapi kedua sisi tidak dapat dipisahkan atau dilihat secara berbarengan. Apabila kita ingin menampilkan gambar angka, maka letakkan nilai nominal di sisi atas, sebaliknya jika kita berkehendak melihat gambar burung kita letakkan gambar angka di bawah. Apabila seseorang mengaku bisa melihat kedua sisi satu keping mata uang dalam waktu yang sama, maka seseorang dikatakan berjiwa munafik alias kehidupan yang palsu hanya berdasarkan pengaku-akuan bohong.

Manusia Bebas Mencoblos Memilih

Pada setiap bayi lahir, Tuhan telah menciptakan hawa dalam keadaan putih/suci. Manusia memiliki kebebasan menentukan apakah hawa nafsunya akan berkiblat kepada kesucian yang bersumber pada roh suci (ruhul kuddus), atau sebaliknya ingin berkiblat kepada kemungkaran jasad/raga (unsur duniawi). Apabila seseorang berkiblat pada kemungkaran akan menjadi seteru Tuhan dan memiliki konsekuensi (dosa/karma/hukuman) yang akan dirasakan kelak setelah menemui ajal (akhirat), bisa juga dirasakan sewaktu masih hidup di dunia. Maka peranan semua agama yang ada di muka bumi adalah pendidikan yang ditujukan kepada hawa/nafs/jiwa manusia agar selalu berkiblat kepada rumus Tuhan atau qodratullah. Sumber dari ilmu dan “rumus Tuhan” (qodratullah) bisa kita temukan dalam “perpustakaan” atau gudang ilmu yang terdekat dengan diri kita, yakni roh suci (Ruhul-Kuddus/Guru-Sejati/Sukma-Sejati/Rahsa-Sejati).

Kadang kala Tuhan Maha Pemurah menganugerahkan seseorang untuk mendapat “bocoran soal” akan rahasia “ilmu Tuhan” melalui pintu hati (qalb) yang di sinari oleh cahyo sejati (nurullah). Yang lazim disebut sebagai ungkapan dari (hati) nurani. Petunjuk dari Tuhan ini diartikan sebagai wirayat, wahyu, risalah, sasmita gaib, ilham, wisik dan sebagainya. Dalam posting ini kami tidak membahas model dan macam petunjuk Tuhan tersebut.

Laku Prihatin adalah Jihad Sejati

“Penundukan” roh terhadap hawa nafsu negatif adalah penundukkan terhadap segala yang berhubungan dengan material (syahwat) atau kenikmatan ragawi. Dengan kata lain yakni penundukan unsur “Tuhan” terhadap unsur bumi. Dalam ilmu Jawa dikatakan sebagai jiwa yang tunduk pada kareping rahsa / rasa sejati (kehendak Guru Sejati/kehendak Tuhan), serta meredam rahsaning karep (kemauan hawa nafsu negatif). Segenap upaya yang mendukung proses “penundukan” unsur Tuhan terhadap unsur bumi dalam khasanah Jawa disebut sebagai laku prihatin. Dengan laku prihatin, seseorang berharap jiwanya tidak dikendalikan oleh keinginan jasad. Maka di dalam khasanah spiritual Kejawen, laku prihatin merupakan syarat utama yang harus dilakukan seseorang menggapai tingkatan spiritualitas sejati. Seperti ditegaskan dalam serat Wedhatama (Jawa; Wredhotomo) karya KGPAA Mangkunegoro IV; bahwa ngelmu iku kalakone kanthi laku. Laku prihatin dalam istilah Arab sebagai aqabah, yakni jalan terjal mendaki dan sulit, karena seseorang yang menjalani laku prihatin harus membebaskan diri dari perbudakan syahwat dan hawa nafsu yang negatif. Di mana ia sebagai sumber kenikmatan keduniawian. Maka apa yang disebut sebagai Jihad yang sesungguhnya adalah perang tanding di medan perang dalam kalbu antara tentara Muslim nafsu positif melawan tentara Amerika nafsu negatif. Disebut kemenangan dalam berjihad apabila seseorang telah berhasil “meledakkan bom” di pusat kekuasaan setan (hawa nafsu negatif) dalam hati kita. “Bahan peledaknya” bernama C4 dan TNT laku prihatin dan olah batin (wara’ dan amr ma’ruf nahi munkar).


Target Utama dalam “Berjihad” (Laku Prihatin)

Perjalanan spiritual dalam bentuk laku prihatin, mempunyai target membentuk hawa nafsu positif atau nafsul muthmainnah. Karena si nafs atau hawa tersebut telah stabil dalam koridor rumus Tuhan (qodrat atau qudrah diri) atau dalam bahasa sansekerta lazimnya disebut sebagai swadharma. Roh yang berada pada tataran pencapaian ini, dalam bahasa Ibrani, ruh disebut sebagai syekinah yang diturunkan ke dalam kalbu dan berhasil merebut (amr) kebaikan (ma’ruf). Jika hawa tidak berdaya karena kuatnya arus nafsu negatif yang dimasukkan jasad lewat pintu panca indera, maka kepribadian manusia dikuasai oleh “milisi” kekuatan batin yang oleh Freud diberi nama ego. Ego cenderung berkiblat pada jasad (duniawi). Maka sudah menjadi tugas hawa (id) untuk membangkang dari keinginan ego agar supaya membelot kepada kekuatan hawa positif (super ego). Hasilnya maka manusia dapat dikendalikan sesuai dengan kodrat dirinya sebagai khalifah Tuhan. Jadilah manusia yang tetap berada pada orbitNya (qodrat/rumus Tuhan), yakni apa yang dimaksud menjadi titah jalma menungsa kang sejati, yaiku nggayuh kasampurnaning gesang, (untuk meraih) sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu.

Sangat terasa bahwa Tuhan sungguh lebih dari Maha Adil, setiap manusia tanpa kecuali dapat menemukan Tuhan melalui pintu nafs, jiwa, atau hawanya masing-masing, karena Tuhan telah membekali jiwa manusia akan kemampuan menangkap sinyal-sinyal suci dari Hyang Mahasuci. Sinyal suci yang diletakkan di dalam rahsa sejati (sirullah) dan roh sejati (ruhullah). Sudah merupakan rumus (Tuhan), apabila seseorang dapat meraih dharma-nya atau kodrat-dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, maka kehidupannya akan selalu menemui kemudahan. Sebaliknya hawa nafsu negatif (setan) senantiasa menggoda hawa/nafs manusia agar supaya hawanya berkiblat kepada unsur bumi.

Menjadi Pribadi yang Menang

Sepanjang hidup manusia selalu berada di dalam arena peperangan “Baratayudha/Brontoyudho” (jihad) antara kekuatan nafsu positif (Pendawa Lima) melawan nafsu negatif (100 pasukan Kurawa). Perang berlangsung di medan perang yang bernama “Padang Kurusetra” (Kalbu). Peperangan yang paling berat dan merupakan sejatinya perang (jihad fi sabilillah) atau perang di jalan kebenaran.

Kemenangan Pendawa Lima diraih tidak mudah. Dan sekalipun kalah pasukan Kurawa 100 selamanya sulit dibrantas tuntas hingga musnah. Maknanya sekalipun hawa nafsu positif telah diraih, artinya hawa nafsu negatif (setan) akan selalu mengincar kapan saja si hawa lengah. Kejawen mengajarkan berbagai macam cara untuk memenangkan peperangan besar tersebut. Di antaranya dengan laku prihatin untuk meraih kemenangan melalui empat tahapan yang harus dilaksanakan secara tuntas. Empat tahapan tersebut dikiaskan ke dalam nada suara salah instrumen Gamelan Jawa yang dinamakan Kempul atau Kenong dan Bonang yang menimbulkan bunyi; Neng, Ning, Nung, Nang.

1. Neng; artinya jumeneng, berdiri, sadar atau bangun untuk melakukan tirakat, semedi, maladihening, atau mesu budi. Konsentrasi untuk membangkitkan kesadaran batin, serta mematikan kesadaran jasad sebagai upaya menangkap dan menyelaraskan diri dalam frekuensi gelombang Tuhan.

2. Ning; artinya dalam jumeneng kita mengheningkan daya cipta (akal-budi) agar menyambung dengan daya rasa- sejati yang menjadi sumber cahaya nan suci. Tersambungnya antara cipta dengan rahsa akan membangun keadaan yang wening. Dalam keadaan “mati raga” kita menciptakan keadaan batin (hawa/jiwa/nafs) yang hening, khusuk, bagai di alam “awang-uwung” namun jiwa tetap terjaga dalam kesadaran batiniah. Sehingga kita dapat menangkap sinyal gaib dari sukma sejati.

3. Nung; artinya kesinungan. Bagi siapapun yang melakukan Neng, lalu berhasil menciptakan Ning, maka akan kesinungan (terpilih dan pinilih) untuk mendapatkan anugrah agung dari Tuhan Yang Mahasuci. Dalam Nung yang sejati, akan datang cahaya Hyang Mahasuci melalui rahsa lalu ditangkap roh atau sukma sejati, diteruskan kepada jiwa, untuk diolah oleh jasad yang suci menjadi manifestasi perilaku utama (lakutama). Perilakunya selalu konstruktif dan hidupnya selalu bermanfaat untuk orang banyak.

4. Nang; artinya menang; orang yang terpilih dan pinilih (kesinungan), akan selalu terjaga amal perbuatan baiknya. sehingga amal perbuatan baik yang tak terhitung lagi akan menjadi benteng untuk diri sendiri. Ini merupakan buah kemenangan dalam laku prihatin. Kemenangan yang berupa anugrah, kenikmatan, dalam segala bentuknya serta meraih kehidupan sejati, kehidupan yang dapat memberi manfaat (rahmat) untuk seluruh makhluk serta alam semesta. Seseorang akan meraih kehidupan sejati, selalu kecukupan, tentram lahir batin, tak bisa dicelakai orang lain, serta selalu menemukan keberuntungan dalam hidup (meraih ngelmu beja).

Neng adalah syariatnya, Ning adalah tarekatnya, Nung adalah hakekatnya, Nang adalah makrifatnya. Ujung dari empat tahap tersebut adalah kodrat (sastrajendra hayuning Rat pangruwating diyu).

Sang “AKU”

Dalam setiap pikiran, perbuatan dan perkataan ingin sekali rasanya selalu berdasarkan atas petunjuk hati nurani, karena sudah pasti sejalan dengan rencana Tuhan atas kehidupan ini …

Pikiranku, Perbuatan & Perkataanku …

Entah apa yang dikehendaki oleh sang pikiran, senantiasa berkelana dari satu objek ke objek lainnya, memunculkan keinginan-keinginan serta harapan-harapan yang terkadang semu, bahkan terkadang aku tidak ingin mempercayai apa yang di usulkan oleh pikiranku…

Berbagai kebodohan masa lalu telah membuat aku malu pada diriku sendiri, meski aku tahu bahwa itu adalah proses pembelajaran yang mesti aku lewati sebagai proses dalam mengenal diriku sendiri, seandainya tidak aku lewati tentu kebodohan itu akan menumpuk menjadi karma negatif yang senantiasa mengikutiku, aku menegur diriku sendiri, untuk berusaha tidak mengulangi lagi kebodohan yang sama dikemudian hari…

Memang masih terasa sulit untuk mensinkronkan antara pikiran dan perbuatanku, terlintas pikiran baik atas saran sang hati nurani, namun berhubung sudah terbiasa merasakan yang enak-enak, badan ini begitu menolak ketika diberi sesuatu yang menurut badan kurang enak, padahal enak itu belum tentu baik …

Lidahmu adalah harimaumu, tentu kata-kata itu sudah biasa kita dengar, memang kenyataanya seperti itu, ketidak mampuan untuk menjaga kata-kata, banyak bicara namun tidak sesuai dengan perbuatan, adalah kelemahan-kelemahan yang hingga kini masih terasa dan harus tetap untuk diusahakan untuk meminta bantuan sang hati nurani agar senantiasa mengingatkan …

Sekuat apapun usaha untuk menyucikan pikiran, perbuatan serta perkataan, tidak akan membuahkan hasil tanpa restu DIA yang bersemayam didalam hati nurani ini, dialah Sang Aku…

Dalam Meditasiku, dalam kesendirianku, aku duduk diam, tanpa suara, tanpa kata, dengan harapan terjalin komunikasi yang harmonis dengan Sang Aku …

Aku, Aku Dan AKU.

Hidup adalah perjalanan, kata orang bijak. Perjalanan ke mana? Tentunya untuk menggapai kebahagiaan. Buat orang-orang beragama kebahagiaan abadilah yang hendak dicari. Tiap manusia pada dasarnya pasti ingin bahagia. Dari kehendak itulah manusia mulai melakukan perjalanan untuk mencari apa yang diidam-idamkan. Sebagian mungkin merasa jawabannya ada pada diri seorang pasangan. Sebagian yang lain mungkin melihatnya sebagai harta atau kuasa. Kalau menurut Ki Ageng Suryo Mentaram tiga pandangan tadi keliru, seperti pada kumpulan wejangan beliau dalam Ilmu Bahagia I, Ilmu Bahagia II, dan Ilmu Bahagia III.

Buat sebagian orang ajaran-ajaran beliau murni ilmu jiwa atau psikologi. Bukan bicara soal klenik atau tidak sama dengan kejawen. Tapi, buat saya wacana yang beliau sampaikan sebenarnya tidak lepas sama sekali dari alur ‘kawruh’ kejawen pada umumnya, yaitu belajar mengenal diri. Bedanya, beliau berusaha memahami ajaran para pendahulu dalam semangat kekinian. Bahasa yang digunakan memang tak seperti syair-syair spiritualis jaman dahulu. Pun tidak rumit dengan simbol-simbol misterius layaknya para pujangga masa lalu. Semuanya tersaji secara jelas, gamblang, dan sederhana. Bagi yang tertarik silakan klik tiga atau empat tautan di atas. Saya hanya memaparkan sesuai perspektif *halah* saya saat ini, sebagai dongeng pribadi. Bila mengakibatkan pusing di kepala, silakan kunjungi apotek terdekat. Risiko ditanggung sendiri-sendiri.

Menyambung prinsip keselarasan pada artikel yang telah lalu, keberadaan manusia [setahu saya] dibagi dalam tiga dimensi utama. Pada tataran terendah, dimensi raga, tubuh manusia [tanpa nalar] pada dasarnya tak jauh berbeda dengan hewan. Untuk mempertahankan hidupnya di sini manusia telah memiliki kehendak. Terdapat pribadi yang setahu saya (sepertinya tidak populer) disebut ‘Kula’ atau akronim ‘Aku sing ala’ (aku yang buruk). Dibilang buruk karena pribadi satu ini cuma tahu hal-hal yang sangat mendasar. Bila merasa lapar lalu makan, bila ingin bepergian lalu bergerak, dan bila ingin bereproduksi lalu ‘jreng jreng jreng’. Tidak ada selera tertentu, rasa malu, atau keinginan yang melebihi kebutuhan. Kehendak primordial barangkali. Sampai di sini tampaknya semua berjalan biasa saja, tak ada gejolak berlebihan.

Namun, manusia dibekali otak yang bisa tumbuh berkembang baik jumlah data maupun programnya. Nah, di sinilah sang hewan mulai melihat peluang ekspansi. Menemukan dunia virtual melalui komputer organik super cepat, mengakses nalar atau pikiran. Makhluk yang berjalan tegak ini mulai bisa memikirkan apa yang dia butuhkan, di mana, dan bagaimana mencapainya. Melalui pikiran inilah orang mulai bisa berkhayal. Masuk ke jagad kejiwaan, alam remang-remang yang hanya disinari cahaya Rembulan. Sebuah tempat yang tampaknya tenang, kosong, dan mudah dikuasai. Kesadarannya mulai berubah. Dari sekadar memenuhi kebutuhan, pribadi kasar satu ini mulai mempunyai keinginan. Berhubung memang hewan, pengejawantahan wataknya pun tak banyak berubah. Di sini dia ingin menjadi jagoan, sok kuasa, jumawa, kesadaran “lu senggol gue bacok” barangkali. Mirip kaum Kurawa, akronim dari ‘kurugan hawa’ (tertimbun hawa nafsu), kata orang kejawen.

Kaum raksasa ini punya keinginan yang cenderung bisa melar, kata Ki Mentaram. Maksudnya, tak sekedar Ingin makan, tapi harus yang enak, ingin pasangan yang cantik binti bahenol, tidak mau capek kalau menempuh perjalanan, dsb. Orang mulai bisa menganalisis, menyusun taktik dan strategi, menjadi hewan yang berpikir, kata ilmuwan seberang lautan. Inilah awal ilusi keinginan yang dibabar sang Pangeran Kecewa atau lebih populer disingkat KAS. Keinginan itu bisa melar, kalau ingin makan daging ayam, umpamanya, setelah tercapai, besoknya berganti menjadi keinginan memakan daging sapi, berikutnya digoreng, lalu dibuat sop, dll. Merasa senang ketika tercapai untuk kemudian ingin lebih senang lagi. Kalau menurut istilah Pak Marsudiyanto, hewan ini diklasifikasikan sebagai makhluk.

Alam kejiwaan kadang digambarkan sebagai lautan, tapi ada juga yang menganalogikan sebagai angkasa. Kurawa merasa bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan di sini, kebahagiaan, sesuai persepsinya sendiri. Berbekal segumpal rasa sok kuasa, mereka ingin menguasai tempat ini sampai dasar lautannya atau langit di angkasa. Tentu saja mereka tak sendiri. Di situ ada pula para Pandawa atau ‘Pendawa’ dalam dialek jawa, akronim dari ‘pener dada sisih kiwa’ (tepat di dada sebelah kiri). Berbeda dengan calon lawannya, watak Pandawa cenderung cinta perdamaian, lemah gemulai, mendayu-dayu, atau barangkali juga sedikit melankolis. Kesadaran Rembulan. Karena itu, sifatnya selalu ingin menerangi alam maya, meski masih tampak samar-samar, tidak terlalu jelas. Sama dengan Kurawa, mereka pun punya akses komputer nalar, lalu berkehendak untuk menjadi penguasa tempat ini.

Di sinilah mulai timbul pergesekan. Dari rasa tidak suka, berkembang menjadi adu argumen, meski menggunakan jalur logika yang berbeda. Ketika kedua belah pihak tak mampu mencapai kesepakatan, timbul pertentangan yang lebih nyata. Masing-masing kini mengepalkan tangan, tanda perselisihan. Hal ini menjadikan kedua kubu makin tidak senang karena belum berhasil memenuhi misinya. Oleh karena itu, alat hitung cepat bernama pikiran lalu berubah fungsi, menjadi gudang senjata. Baik Kurawa maupun Pandawa sama-sama menganggap pertempuran adalah jawaban finalnya. Cara mutlak memperoleh kekuasaan, memenuhi ambisi, untuk mendapatkan kebahagian melalui kekalahan lawan.

Jagad yang tadinya sejuk, tenang, dan damai mendadak berubah menjadi medan pertempuran. Jagad maya menjelma menjadi padang kurusetra, ladang pembantaian sesama. Langit yang tadinya tampak cerah tiba-tiba gelap, ditutupi jutaan anak panah. Saling beradu hingga mengeluarkan suara menggelegar, gemuruh, dan memancarkan warna merah. Di sisi lain, laut turut bergejolak, menggelegak oleh tiupan angin topan. Badai terjadi di mana-mana dan berubah warna seperti darah. Sementara itu, bumi bergolak, bergetar karena terinjak-injak kaki para gajah tunggangan yang terluka akibat hujaman anak panah dan tombak, usai menubruk dan menendang kereta-kereta kuda. Gada dan pedang bertaburan di mana-mana, korban menggeletak tak berdaya.

Di sinilah bersemayamnya sang ‘Aku’ atau kadang disebut ‘Aku tengah’, sang pemilik alam kajiwan. Mendapati adanya pertarungan di sana dan sini, dia tampak bingung, resah, gelisah, tak tahu mana yang pantas dipilih. Suasana terlihat kacau balau, semrawut, rusuh, kisruh. Jagad maya seolah bercampur-aduk tak keruan. Apalagi ada kabar bahwa ada pihak-pihak asing yang gemar turut andil memperkeruh suasana. Belum lagi ‘Aku’ menyaksikan kelahiran makhluk aneh, hasil percampuran dua pihak yang berseberangan, berujud seperti Uruk Hai. Sifatnya pun tak kalah nyleneh. Ada yang doyan membikin rusuh, tapi mengatasnamakan persatuan. Ada pula yang senang membantu, bersedekah, namun selalu ingin ditampilkan secara wah. Ujung-ujungnya hanya membuat susah. Ibarat hidup di neraka, yaitu neraka keinginan.

Meski mungkin tak terlalu populer, ada orang Jawa yang menganggap hakikat neraka dan surga di alam akhir adalah rahasia Ilahi. Meski begitu, dua kata tersebut bisa dimaknai. Neraka disinyalir berasal dari akronim “sing di’ener ora teka-teka” (keinginan / kepuasan yang tak pernah tercapai).

‘Aku’ kian gelisah dan merasa serba salah. Meski tak ikut bertempur dan tak bisa cedera, bukan berarti dia bisa berleha-leha sepuasnya. Pasalnya, dia pernah diberi dua wacana soal sedekah.

“Nadyan setithik karsa myang sadhengah, barakah rejeki paringing Allah, sumrambah tekeng putra wayah”

“Meski sedikit kehendak tapi buat siapa saja, memanfaatkan rejeki pemberian Tuhan, berlanjut hingga anak dan cucu”

“Paring iku sing sedheng, mboten waton kathah, mangke mundhak wutah mbekakrah”

“Pemberian itu secukupnya, tidak asal banyak, nanti malah tumpah berantakan”

Dia sepertinya menyadari sesuatu. Mempertanyakan, “Apakah bahagia itu?” Tadinya ‘Aku’ mengira dapat memperolehnya melalui harta, seperti yang berusaha dikumpulkan oleh para Kurawa. Nyatanya, semua itu tak lantas membuatnya bahagia. Selalu ada keinginan lebih dan bila disimpan pun menimbulkan ketakutan yang berlebih. Pasangan yang menarik pun sama hasilnya. Tidak pula kekuasaan yang serba sementara, yang akhirnya bisa lenyap karena kudeta atau penyebab lainnya. Dia lalu menyadari bahwa tak ada benda yang pantas dicari atau berusaha dimiliki secara mati-matian. “Bagaimana kalau ikut Pandawa saja,” katanya pada diri sendiri, berharap kebahagiaan yang lebih hakiki. Namun, faktanya tak jauh berbeda. ‘Aku’ mencoba menyebar harta tiap hari dan membayangkan iming-iming ganti rugi berupa perlipatan harta benda. Makin ditebar, makin besar pula kenginannya untuk berbuat lebih banyak, lebih, dan lebih lagi. Dia lalu merenung, “Ah, sepertinya kok tak jauh beda dengan ngelmu pesugihan.”

Senang sebentar lalu susah lagi, serba bermasalah. Lalu, ‘Aku’ seperti mendapat pencerahan. “Ini dia!” Dia menyadari sesuatu. Kebahagiaan atau kesenangan bukan pada benda yang dicari atau yang sudah dipunyai. Tidak pula pada angan-angan, keinginan, atau bahkan hasil itu sendiri. Kebahagian sejati adalah rasa. Bagaimana cara mendapatkannya? Sang jagad jiwa lalu mendapat ide cemerlang saat meratapi planetnya yang sudah hancur porak-poranda. Dia ingat lagi petuah kuno bahwa dahulu kala dirinya tidak ada. Lalu, diberi keberadaan, apapun yang ada pada dirinya hanyalah titipan, pinjaman, atau ujian. Bila diserahkan kepada Tuhan, suatu saat bakal dikembalikan dan dilipatgandakan. Bahkan, sebagai penghargaan atas kesetiaan, kepatuhan, dan ketundukkan, seseorang lalu diberi label kepemilikan. Sebaliknya, bila apa yang ada hanya disimpan, tidak dimanfaatkan, suatu ketika semua itu wajib dikembalikan. Akhirnya, jangan-jangan justru berakhir dengan sebuah ketiadaan, kenistaan, neraka jahanam mungkin.

Sepertinya ajaran tersebut memberi jawaban yang dibutuhkannya. “Tutup saja gudang senjatanya,” katanya seraya melambaikan jari tangan, menutup akses dunia maya, si komputer jagad pewayangan. *Jebret! tombol restart dipencet!* “Tidaaak!” Terdengar suara-suara yang gemuruh penuh kekecewaan. Para petarung terkaget-kaget sambil melirik ke kiri dan kanan. Seketika itu juga pertempuran mereda. Panah-panah di udara lenyap semua, tombak dan gada pun sama nasibnya, dan jubah-jubah serta tameng musnah tak berbekas. Hanya menyisakan ketelanjangan kedua belah pihak yang saling bertikai. Berhubung tak ada lagi senjata, padang kurusetra berubah ujud kembali seperti semula. Alam remang-remang yang sepi, tenang, tak ada gejolak. Mendapati keadaan ini, para Kurawa serta Pandawa tak bisa apa-apa. Suasana mendadak berubah menjadi banyolan super konyol. Mereka yang tadinya bertempur dengan sengit dan ganas, sekarang hanya bisa bercubit-cubitan sambil bersenggol-senggolan.

Tak hanya sampai di situ, sang maya mengambil langkah yang lebih drastis. Dia memutuskan menyerahkan segalanya kepada sang penguasa, menjadi pasrah, tunduk, sujud, dan bahkan mati. Mengorbankan dirinya sendiri dalam upaya mencari kebahagiaan sejati. Mungkin inilah yang disebut ‘mati sakjeroning urip’ (mati di dalam kehidupan). Sekonyong-konyong sang pribadi tengah lunglai, tak lagi butuh kuasa, tak berdaya. Pihak-pihak asing pun terpaksa kembali ke alamnya masing-masing, dideportasi secara otomatis. Meski begitu, pengorbanan tersebut tidaklah sia-sia.

Dalam ketiadaan itu justru membangkitkan kesadaran yang lebih tinggi. Sebuah pribadi yang terbangun dari tidur panjang, muncul dari sebuah kepompong cahaya. Sebuah kesadaran dari realitas lebih tinggi, dimensi ‘Jagad Padhang’ (alam terang benderang). Bukan lagi seperti Rembulan, sang pemantul cahaya, melainkan sebuah pribadi Mentari, sang manusia cahaya, ‘Ingsun’. ‘Aku Tukang Nyawang’ (Aku Sang Pengamat), istilah Ki Mentaram. Barangkali bisa digambarkan sebagai sosok Sri Kresna, guru para Pandawa dan sekaligus Kurawa. Bisa juga disebut Dewi Srikandi, supaya tidak dikira bias gender. Tokoh yang konon tahu skenario akhir perang Baratayuda dan siapa yang pantas menjadi jawara sesungguhnya. Cerah berseri-seri dan dengar-dengar cahayanya bisa 1000 kali lebih gemerlap dari sebuah Rembulan.

Begitu terbangun, sang ksatria sejati ini lalu celingak-celinguk melihat jagad maya yang kini lebih menyerupai sinetron komedi yang tidak lucu. Saking kagetnya beliau berucap, “Yak apa iki rek? Gak ngono kuwi ceritane Baratayuda.” Sekejap kemudian berusaha berdiri dan tanpa sadar lalu berucap lantang, “Sluman, slumun, slamet!” Tiba-tiba dia membekap mulutnya sendiri sambil tengak-tengok lalu bergumam, “Lho, piye iki kok Ingsun dadi satria kejawen ngene ta?” Belum sempat berpikir mendadak muncul suara yang sebenarnya bukan suara, tapi jelas maksudnya. Seolah muncul dari dalam diri sang Mentari. “Sampeyan gak usah kakehan abab. Manuta ae. Ingsun iki sutradarane!”

Mendengar jawaban tersebut sang ksatria yang dipenuhi cahaya itu langsung patuh. Katanya memang seperti itulah watak dasarnya. Selalu patuh, tunduk, dan siap mengabdi kepada Tuannya. Dengan sigap ia lalu menaiki kereta yang dihiasi pahatan berukir ‘Sir’, di atas roda-roda ‘Nurani’. Tangannya langsung menggenggam erat-erat ‘Aku’ yang tiba-tiba bangkit kembali, namun kini punya peran yang lebih jelas, sebagai tali kekang. Sementara itu, kaum kurawa hanya bisa meringkik. Leher mereka tiba-tiba sudah dijerat, kaki menghentak-hentak, dijadikan kuda-kuda pacu untuk menjalani misi si manusia sejati. Kesadaran surga atau ’suwarga’ yang menurut sebagian orang Jawa adalah akronim dari ’srowa-srawu sarwa lila lan legawa’ (menjalani peran kehidupan dengan ikhlas dan lapang dada).

Akhir kata, saya hanyalah seorang pengais reruntuhan peradaban para pendahulu, punya kecenderungan untuk sok tahu, seperti suara parau dari masa lampau.

Diambil Dari Sitijenag.multiply.com

Aku sejati

Kenalilah dirimu jika kamu ingin mengenal Tuhanmu

Karna hanya dengan mengenal dirimulah

maka Tuhanmu akan dapat kamu kenali



AKU adalah AKU

Bukan badan apalagi nafsu

Badan dan nafsu adalah milik dari sang AKU

Namun bukan sang AKU itu sendiri

AKU adalah AKU

Yang tersembunyi sekaligus nyata

Bersemayam dalam jasad semesta





Sang AKU bersifat Abadi

Tidak pernah tidur

Apalagi mati

Tidak pernah takut

Ataupun bersedih

AKU Sang ROH Suci

Yang mampu menembus alam mimpi

AKUlah yang menguasai akal dan pikiran

AKUlah Tuan atas Jasad ragawi ini.