Senin, 08 Januari 2001

Aku, Aku Dan AKU.

Hidup adalah perjalanan, kata orang bijak. Perjalanan ke mana? Tentunya untuk menggapai kebahagiaan. Buat orang-orang beragama kebahagiaan abadilah yang hendak dicari. Tiap manusia pada dasarnya pasti ingin bahagia. Dari kehendak itulah manusia mulai melakukan perjalanan untuk mencari apa yang diidam-idamkan. Sebagian mungkin merasa jawabannya ada pada diri seorang pasangan. Sebagian yang lain mungkin melihatnya sebagai harta atau kuasa. Kalau menurut Ki Ageng Suryo Mentaram tiga pandangan tadi keliru, seperti pada kumpulan wejangan beliau dalam Ilmu Bahagia I, Ilmu Bahagia II, dan Ilmu Bahagia III.

Buat sebagian orang ajaran-ajaran beliau murni ilmu jiwa atau psikologi. Bukan bicara soal klenik atau tidak sama dengan kejawen. Tapi, buat saya wacana yang beliau sampaikan sebenarnya tidak lepas sama sekali dari alur ‘kawruh’ kejawen pada umumnya, yaitu belajar mengenal diri. Bedanya, beliau berusaha memahami ajaran para pendahulu dalam semangat kekinian. Bahasa yang digunakan memang tak seperti syair-syair spiritualis jaman dahulu. Pun tidak rumit dengan simbol-simbol misterius layaknya para pujangga masa lalu. Semuanya tersaji secara jelas, gamblang, dan sederhana. Bagi yang tertarik silakan klik tiga atau empat tautan di atas. Saya hanya memaparkan sesuai perspektif *halah* saya saat ini, sebagai dongeng pribadi. Bila mengakibatkan pusing di kepala, silakan kunjungi apotek terdekat. Risiko ditanggung sendiri-sendiri.

Menyambung prinsip keselarasan pada artikel yang telah lalu, keberadaan manusia [setahu saya] dibagi dalam tiga dimensi utama. Pada tataran terendah, dimensi raga, tubuh manusia [tanpa nalar] pada dasarnya tak jauh berbeda dengan hewan. Untuk mempertahankan hidupnya di sini manusia telah memiliki kehendak. Terdapat pribadi yang setahu saya (sepertinya tidak populer) disebut ‘Kula’ atau akronim ‘Aku sing ala’ (aku yang buruk). Dibilang buruk karena pribadi satu ini cuma tahu hal-hal yang sangat mendasar. Bila merasa lapar lalu makan, bila ingin bepergian lalu bergerak, dan bila ingin bereproduksi lalu ‘jreng jreng jreng’. Tidak ada selera tertentu, rasa malu, atau keinginan yang melebihi kebutuhan. Kehendak primordial barangkali. Sampai di sini tampaknya semua berjalan biasa saja, tak ada gejolak berlebihan.

Namun, manusia dibekali otak yang bisa tumbuh berkembang baik jumlah data maupun programnya. Nah, di sinilah sang hewan mulai melihat peluang ekspansi. Menemukan dunia virtual melalui komputer organik super cepat, mengakses nalar atau pikiran. Makhluk yang berjalan tegak ini mulai bisa memikirkan apa yang dia butuhkan, di mana, dan bagaimana mencapainya. Melalui pikiran inilah orang mulai bisa berkhayal. Masuk ke jagad kejiwaan, alam remang-remang yang hanya disinari cahaya Rembulan. Sebuah tempat yang tampaknya tenang, kosong, dan mudah dikuasai. Kesadarannya mulai berubah. Dari sekadar memenuhi kebutuhan, pribadi kasar satu ini mulai mempunyai keinginan. Berhubung memang hewan, pengejawantahan wataknya pun tak banyak berubah. Di sini dia ingin menjadi jagoan, sok kuasa, jumawa, kesadaran “lu senggol gue bacok” barangkali. Mirip kaum Kurawa, akronim dari ‘kurugan hawa’ (tertimbun hawa nafsu), kata orang kejawen.

Kaum raksasa ini punya keinginan yang cenderung bisa melar, kata Ki Mentaram. Maksudnya, tak sekedar Ingin makan, tapi harus yang enak, ingin pasangan yang cantik binti bahenol, tidak mau capek kalau menempuh perjalanan, dsb. Orang mulai bisa menganalisis, menyusun taktik dan strategi, menjadi hewan yang berpikir, kata ilmuwan seberang lautan. Inilah awal ilusi keinginan yang dibabar sang Pangeran Kecewa atau lebih populer disingkat KAS. Keinginan itu bisa melar, kalau ingin makan daging ayam, umpamanya, setelah tercapai, besoknya berganti menjadi keinginan memakan daging sapi, berikutnya digoreng, lalu dibuat sop, dll. Merasa senang ketika tercapai untuk kemudian ingin lebih senang lagi. Kalau menurut istilah Pak Marsudiyanto, hewan ini diklasifikasikan sebagai makhluk.

Alam kejiwaan kadang digambarkan sebagai lautan, tapi ada juga yang menganalogikan sebagai angkasa. Kurawa merasa bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan di sini, kebahagiaan, sesuai persepsinya sendiri. Berbekal segumpal rasa sok kuasa, mereka ingin menguasai tempat ini sampai dasar lautannya atau langit di angkasa. Tentu saja mereka tak sendiri. Di situ ada pula para Pandawa atau ‘Pendawa’ dalam dialek jawa, akronim dari ‘pener dada sisih kiwa’ (tepat di dada sebelah kiri). Berbeda dengan calon lawannya, watak Pandawa cenderung cinta perdamaian, lemah gemulai, mendayu-dayu, atau barangkali juga sedikit melankolis. Kesadaran Rembulan. Karena itu, sifatnya selalu ingin menerangi alam maya, meski masih tampak samar-samar, tidak terlalu jelas. Sama dengan Kurawa, mereka pun punya akses komputer nalar, lalu berkehendak untuk menjadi penguasa tempat ini.

Di sinilah mulai timbul pergesekan. Dari rasa tidak suka, berkembang menjadi adu argumen, meski menggunakan jalur logika yang berbeda. Ketika kedua belah pihak tak mampu mencapai kesepakatan, timbul pertentangan yang lebih nyata. Masing-masing kini mengepalkan tangan, tanda perselisihan. Hal ini menjadikan kedua kubu makin tidak senang karena belum berhasil memenuhi misinya. Oleh karena itu, alat hitung cepat bernama pikiran lalu berubah fungsi, menjadi gudang senjata. Baik Kurawa maupun Pandawa sama-sama menganggap pertempuran adalah jawaban finalnya. Cara mutlak memperoleh kekuasaan, memenuhi ambisi, untuk mendapatkan kebahagian melalui kekalahan lawan.

Jagad yang tadinya sejuk, tenang, dan damai mendadak berubah menjadi medan pertempuran. Jagad maya menjelma menjadi padang kurusetra, ladang pembantaian sesama. Langit yang tadinya tampak cerah tiba-tiba gelap, ditutupi jutaan anak panah. Saling beradu hingga mengeluarkan suara menggelegar, gemuruh, dan memancarkan warna merah. Di sisi lain, laut turut bergejolak, menggelegak oleh tiupan angin topan. Badai terjadi di mana-mana dan berubah warna seperti darah. Sementara itu, bumi bergolak, bergetar karena terinjak-injak kaki para gajah tunggangan yang terluka akibat hujaman anak panah dan tombak, usai menubruk dan menendang kereta-kereta kuda. Gada dan pedang bertaburan di mana-mana, korban menggeletak tak berdaya.

Di sinilah bersemayamnya sang ‘Aku’ atau kadang disebut ‘Aku tengah’, sang pemilik alam kajiwan. Mendapati adanya pertarungan di sana dan sini, dia tampak bingung, resah, gelisah, tak tahu mana yang pantas dipilih. Suasana terlihat kacau balau, semrawut, rusuh, kisruh. Jagad maya seolah bercampur-aduk tak keruan. Apalagi ada kabar bahwa ada pihak-pihak asing yang gemar turut andil memperkeruh suasana. Belum lagi ‘Aku’ menyaksikan kelahiran makhluk aneh, hasil percampuran dua pihak yang berseberangan, berujud seperti Uruk Hai. Sifatnya pun tak kalah nyleneh. Ada yang doyan membikin rusuh, tapi mengatasnamakan persatuan. Ada pula yang senang membantu, bersedekah, namun selalu ingin ditampilkan secara wah. Ujung-ujungnya hanya membuat susah. Ibarat hidup di neraka, yaitu neraka keinginan.

Meski mungkin tak terlalu populer, ada orang Jawa yang menganggap hakikat neraka dan surga di alam akhir adalah rahasia Ilahi. Meski begitu, dua kata tersebut bisa dimaknai. Neraka disinyalir berasal dari akronim “sing di’ener ora teka-teka” (keinginan / kepuasan yang tak pernah tercapai).

‘Aku’ kian gelisah dan merasa serba salah. Meski tak ikut bertempur dan tak bisa cedera, bukan berarti dia bisa berleha-leha sepuasnya. Pasalnya, dia pernah diberi dua wacana soal sedekah.

“Nadyan setithik karsa myang sadhengah, barakah rejeki paringing Allah, sumrambah tekeng putra wayah”

“Meski sedikit kehendak tapi buat siapa saja, memanfaatkan rejeki pemberian Tuhan, berlanjut hingga anak dan cucu”

“Paring iku sing sedheng, mboten waton kathah, mangke mundhak wutah mbekakrah”

“Pemberian itu secukupnya, tidak asal banyak, nanti malah tumpah berantakan”

Dia sepertinya menyadari sesuatu. Mempertanyakan, “Apakah bahagia itu?” Tadinya ‘Aku’ mengira dapat memperolehnya melalui harta, seperti yang berusaha dikumpulkan oleh para Kurawa. Nyatanya, semua itu tak lantas membuatnya bahagia. Selalu ada keinginan lebih dan bila disimpan pun menimbulkan ketakutan yang berlebih. Pasangan yang menarik pun sama hasilnya. Tidak pula kekuasaan yang serba sementara, yang akhirnya bisa lenyap karena kudeta atau penyebab lainnya. Dia lalu menyadari bahwa tak ada benda yang pantas dicari atau berusaha dimiliki secara mati-matian. “Bagaimana kalau ikut Pandawa saja,” katanya pada diri sendiri, berharap kebahagiaan yang lebih hakiki. Namun, faktanya tak jauh berbeda. ‘Aku’ mencoba menyebar harta tiap hari dan membayangkan iming-iming ganti rugi berupa perlipatan harta benda. Makin ditebar, makin besar pula kenginannya untuk berbuat lebih banyak, lebih, dan lebih lagi. Dia lalu merenung, “Ah, sepertinya kok tak jauh beda dengan ngelmu pesugihan.”

Senang sebentar lalu susah lagi, serba bermasalah. Lalu, ‘Aku’ seperti mendapat pencerahan. “Ini dia!” Dia menyadari sesuatu. Kebahagiaan atau kesenangan bukan pada benda yang dicari atau yang sudah dipunyai. Tidak pula pada angan-angan, keinginan, atau bahkan hasil itu sendiri. Kebahagian sejati adalah rasa. Bagaimana cara mendapatkannya? Sang jagad jiwa lalu mendapat ide cemerlang saat meratapi planetnya yang sudah hancur porak-poranda. Dia ingat lagi petuah kuno bahwa dahulu kala dirinya tidak ada. Lalu, diberi keberadaan, apapun yang ada pada dirinya hanyalah titipan, pinjaman, atau ujian. Bila diserahkan kepada Tuhan, suatu saat bakal dikembalikan dan dilipatgandakan. Bahkan, sebagai penghargaan atas kesetiaan, kepatuhan, dan ketundukkan, seseorang lalu diberi label kepemilikan. Sebaliknya, bila apa yang ada hanya disimpan, tidak dimanfaatkan, suatu ketika semua itu wajib dikembalikan. Akhirnya, jangan-jangan justru berakhir dengan sebuah ketiadaan, kenistaan, neraka jahanam mungkin.

Sepertinya ajaran tersebut memberi jawaban yang dibutuhkannya. “Tutup saja gudang senjatanya,” katanya seraya melambaikan jari tangan, menutup akses dunia maya, si komputer jagad pewayangan. *Jebret! tombol restart dipencet!* “Tidaaak!” Terdengar suara-suara yang gemuruh penuh kekecewaan. Para petarung terkaget-kaget sambil melirik ke kiri dan kanan. Seketika itu juga pertempuran mereda. Panah-panah di udara lenyap semua, tombak dan gada pun sama nasibnya, dan jubah-jubah serta tameng musnah tak berbekas. Hanya menyisakan ketelanjangan kedua belah pihak yang saling bertikai. Berhubung tak ada lagi senjata, padang kurusetra berubah ujud kembali seperti semula. Alam remang-remang yang sepi, tenang, tak ada gejolak. Mendapati keadaan ini, para Kurawa serta Pandawa tak bisa apa-apa. Suasana mendadak berubah menjadi banyolan super konyol. Mereka yang tadinya bertempur dengan sengit dan ganas, sekarang hanya bisa bercubit-cubitan sambil bersenggol-senggolan.

Tak hanya sampai di situ, sang maya mengambil langkah yang lebih drastis. Dia memutuskan menyerahkan segalanya kepada sang penguasa, menjadi pasrah, tunduk, sujud, dan bahkan mati. Mengorbankan dirinya sendiri dalam upaya mencari kebahagiaan sejati. Mungkin inilah yang disebut ‘mati sakjeroning urip’ (mati di dalam kehidupan). Sekonyong-konyong sang pribadi tengah lunglai, tak lagi butuh kuasa, tak berdaya. Pihak-pihak asing pun terpaksa kembali ke alamnya masing-masing, dideportasi secara otomatis. Meski begitu, pengorbanan tersebut tidaklah sia-sia.

Dalam ketiadaan itu justru membangkitkan kesadaran yang lebih tinggi. Sebuah pribadi yang terbangun dari tidur panjang, muncul dari sebuah kepompong cahaya. Sebuah kesadaran dari realitas lebih tinggi, dimensi ‘Jagad Padhang’ (alam terang benderang). Bukan lagi seperti Rembulan, sang pemantul cahaya, melainkan sebuah pribadi Mentari, sang manusia cahaya, ‘Ingsun’. ‘Aku Tukang Nyawang’ (Aku Sang Pengamat), istilah Ki Mentaram. Barangkali bisa digambarkan sebagai sosok Sri Kresna, guru para Pandawa dan sekaligus Kurawa. Bisa juga disebut Dewi Srikandi, supaya tidak dikira bias gender. Tokoh yang konon tahu skenario akhir perang Baratayuda dan siapa yang pantas menjadi jawara sesungguhnya. Cerah berseri-seri dan dengar-dengar cahayanya bisa 1000 kali lebih gemerlap dari sebuah Rembulan.

Begitu terbangun, sang ksatria sejati ini lalu celingak-celinguk melihat jagad maya yang kini lebih menyerupai sinetron komedi yang tidak lucu. Saking kagetnya beliau berucap, “Yak apa iki rek? Gak ngono kuwi ceritane Baratayuda.” Sekejap kemudian berusaha berdiri dan tanpa sadar lalu berucap lantang, “Sluman, slumun, slamet!” Tiba-tiba dia membekap mulutnya sendiri sambil tengak-tengok lalu bergumam, “Lho, piye iki kok Ingsun dadi satria kejawen ngene ta?” Belum sempat berpikir mendadak muncul suara yang sebenarnya bukan suara, tapi jelas maksudnya. Seolah muncul dari dalam diri sang Mentari. “Sampeyan gak usah kakehan abab. Manuta ae. Ingsun iki sutradarane!”

Mendengar jawaban tersebut sang ksatria yang dipenuhi cahaya itu langsung patuh. Katanya memang seperti itulah watak dasarnya. Selalu patuh, tunduk, dan siap mengabdi kepada Tuannya. Dengan sigap ia lalu menaiki kereta yang dihiasi pahatan berukir ‘Sir’, di atas roda-roda ‘Nurani’. Tangannya langsung menggenggam erat-erat ‘Aku’ yang tiba-tiba bangkit kembali, namun kini punya peran yang lebih jelas, sebagai tali kekang. Sementara itu, kaum kurawa hanya bisa meringkik. Leher mereka tiba-tiba sudah dijerat, kaki menghentak-hentak, dijadikan kuda-kuda pacu untuk menjalani misi si manusia sejati. Kesadaran surga atau ’suwarga’ yang menurut sebagian orang Jawa adalah akronim dari ’srowa-srawu sarwa lila lan legawa’ (menjalani peran kehidupan dengan ikhlas dan lapang dada).

Akhir kata, saya hanyalah seorang pengais reruntuhan peradaban para pendahulu, punya kecenderungan untuk sok tahu, seperti suara parau dari masa lampau.

Diambil Dari Sitijenag.multiply.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar